Iklim Hangat Picu Lahirnya Spesies Baru

Ilustrasi (Foto: Machineslikeus) WASHINGTON - Studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Universities of York, Glasgow and Leeds, mengungkap analisis tentang fosil dan rekam geologis 540 juta tahun lalu. Para peneliti menghasilkan temuan baru terkait kondisi iklim hangat yang memicu lahirnya spesies baru atau keanekaragaman hayati. Dilansir Machineslikeus, Selasa (4/9/2012), peneliti mengatakan bahwa meningkatkan biodiversity atau keragaman hayati ini tergantung pada evolusi spesies baru selama jutaan tahun lalu dan biasanya disertai adanya kepunahan spesies. Para peneliti menunjukkan bahwa tren saat suhu meningkat tidak mungkin meningkatkan keanekaragaman hayati global dalam waktu yang singkat. Diperlukan rentang waktu yang panjang untuk membentuk evolusi baru. Sebelumnya, para peneliti percaya bahwa kecepatan perubahan iklim ini akan menyebabkan hilangnya keanekaragaman. Penelitian yang diterbitkan pada Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) mengungkap kondisi iklim hangat masa lampau yang meningkatkan angka kepunahan, sekaligus memunculkan asal usul spesies baru yang berujung pada meningkatknya keanekaragaman hayati secara keseluruhan. Penelitian baru ini merupakan penyempurnaan dari studi sebelumnya yang menganalisis keanekaragaman hayati dalam interval waktu yang sama. Akan tetapi, dengan satu set data yang kurang canggih. Sehingga, kini peneliti menggunakan data lengkap yang tersedia dan memeriksa pola keanekaragaman hayati melalui hewan invertebrata laut selama 540 juta tahun terakhir. Penulis utama Peter Mayhew dari Department of Biology at York mengatakan, peningkatan data ini memberi peneliti gambaran lebih rinci dari dampak temperatur di iklim hangat pada biodiversity laut. "Data menunjukkan, seperti yang diketahui sebelumnya, iklim hangat menunjukkan adanya angka kepunahan yang meningkat dan sekaligus asal mula munculnya spesies baru," jelas Peter. Ia mengatakan, secara keseluruhan, iklim hangat tampak berpotensi meningkatkan keanekaragaman hayati dalam jangka waktu yang sangat panjang. "Hasil temuan baru kami membalikkan kesimpulan dan membawa pengetahuan baru terkait pola ekologis," terang Alistair McGowan dari School of Geographical and Earth Sciences di University of Glasgow. sumber=http://techno.okezone.com

Komentar Terbaru

Just load it!